Minggu, 05 Agustus 2012

Inikah Tulang Yohanes Pembaptis?

Patung Yohanes Pembaptis di Perancis


Ilmuwan menemukan tulang manusia di dalam sebuah sarkofagus di bawah lantai gereja di Bulgaria, dua tahun lalu. Tulang yang ditemukan berupa tulang tangan beserta tulang gigi, bagian tulang tengkorak, dan tiga tulang hewan.
Pada sarkofagus tempat tulang tersebut ditemukan tertulis "Sveti Ivan", yang berarti Yohanes Pembaptis. Ilmuwan menduga bahwa tulang yang ditemukan adalah milik Yohanes Pembaptis, sosok yang membaptis Yesus di Sungai Yordan.
Beberapa analisis tulang mendukung klaim tersebut. Salah satunya, tulang diketahui berasal dari abad pertama Masehi, masa Yohanes Pembaptis hidup sebelum akhirnya dipenggal oleh Raja Herodes.
Ilmuwan dari University of Copenhagen melakukan analisis DNA dari sampel tulang yang ditemukan. Hasilnya mengungkapkan bahwa tulang berasal dari satu individu, kemungkinan pria, serta berasal dari Timur Tengah, tempat Yohanes Pembaptis hidup.
Apakah bisa dipastikan bahwa tulang yang ditemukan adalah milik Yohanes Pembaptis? Tentu saja hal itu masih bisa diperdebatkan. Banyak situs di dunia yang diyakini menyimpan tulang milik Yohanes Pembaptis, salah satunya di Masjid Besar Damascus.
"Hasil analisis dari tulang metakarpal (jari tangan) konsisten menunjukkan seseorang yang hidup pada abad 1 Masehi. Apakah ini Yohanes Pembaptis, itu sebuah pertanyaan yang kita belum bisa jawab secara pasti, dan mungkin takkan pernah bisa," kata Tom Higham, pimpinan studi dari Ozford University, seperti dikutip AFP, Kamis (14/6/2012) lalu.
Tulang itu ditemukan di sebuah kotak dalam sarkofagus. Menurut peneliti, gereja di Bulgaria menerima bagian dari tulang Yohanes Pembaptis tersebut pada awal abad ke-6.

Program Komputer Lacak Penulis Kitab Suci

Ilustrasi Kitab Suci



Ilmuwan komputer asal Israel mengembangkan program komputer dengan alogaritma yang mampu menganalisis gaya tulisan. Program ini digunakan untuk menemukan penulis kitab suci yang sebenarnya, sesuatu yang kini masih jadi perdebatan.
Hingga pengembangan saat ini, program memang belum mampu mencapai target utamanya. Namun, program telah bisa dipakai untuk menganalisa kalimat yang dibuat oleh lebih dari satu orang dan mendeteksi di bagian mana sebenarnya tulisan berpindah tangan ke penulis lain.
Sebagai contoh, banyak orang percaya bahwa kitab Taurat yang merupakan kitab suci tertua ditulis oleh satu orang saja, yakni Musa. Meski demikian, banyak ahli yakin bahwa kitab tersebut memiliki banyak sumber.
Program komputer akan menengahi perdebatan dengan menyuguhkan hasil analisa. Program ini melihat bagaimana kata-kata dan sinonim digunakan dalam beragam kalimat sehingga bisa menemukan siapa saja orang yang terlibat dalam pembuatan suatu naskah.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Professor Nachum Dershowitz dari Blatvanik School of Computer Science University of Tel Aviv mengatakan bahwa kemampuan program telah diuji dengan menganalisa 2 buku bahasa Ibrani dari Jeremiah dan Ezekiel. 99 persen hasil analisa akurat.
Program komputer dan kemampuannya ini dipresentasikan di Annual Conference of the Association for Computational Linguistics di Portland. Tim peneliti mengatakan, program ini secara khusus diharapkan bisa menelaah siapa penulis Alkitab yang sebenarnya.

Bahasa yang Hilang Kini Ditemukan

Lempengan tanah liat berisi nama-nama perempuan dalam aksara paku, diduga menjadi petuinjuk adanya bahasa yang belum dikenal sebelumnya.


 Arkeolog yang melakukan penelitian di Turki menemukan bukti adanya bahasa yang dilupakan atau hilang. Bahasa itu berasal dari masa 2500 tahun lalu, pada masa Kerajaan Asiria.
Bukti adanya bahasa itu ditemukan dalam sebuah lempengan tanah liat. Menurut prediksi para arkeolog, lempengan tanah liat itu terbakar di sebuah istana di Tushan pada abad ke-8 SM.
Pada tablet yang ditemukan, tertulis nama-nama perempuan yang terkait dengan istana dan badan administrasi Asiria. Seluruh nama yang tertera dituliskan dalam aksara paku.
Tablet tepatnya ditemukan di wilayah Ziyaret Tepe di Sungai Tigris, wilayah tenggara Turki. Wilayah ini ialah lokasi penggalian arkeologi secara ekstensif sejak tahun 1997.
John MacGinnis, arkeolog dari McDonald Institute for Archaeological Research yang melakukan penelitian ini, mengungkapkan bahwa nama-nama yang tertera pada tablet unik dan menarik perhatian.
"Semuanya yang tertulis 60 nama. Satu atau dua adalah Asiria dan beberapa yang lain dari bahasa lain yang ada pada masa itu, seperti Luwian dan Hurrian, tetapi mayoritas dari bahasa yang tak dikenal," ungkap MacGinnis seperti dikutip Sciencedaily, Kamis (10/5/2012).
Arkeolog percaya bahwa orang-orang yang namanya mengindikasikan adanya bahasa yang belum dikenal itu berasal dari Gunung Zagros, kini perbatasan Iran dan Irak. Mereka terpaksa keluar dari kampung halamannya pada masa Kerajaan Asiria.
"Jika teori bahwa orang-orang yang bicara bahasa itu berasal dari barat Iran terbukti, ada potensi bagi kita untuk mendapatkan gambaran sebuah kerajaan pertama yang multietnis," kata MacGinnis.
"Kita tahu dari literatur kini bahwa Asiria memang menaklukkan orang di area itu. Kini kita mengetahui bahwa ada bahasa lain yang mungkin berasal dari daerah yang sama dan mungkin banyak bukti terkait keberadaannya menanti untuk ditemukan," ungkapnya.
Penemuan ini membuka pertanyaan baru, dari mana bahasa yang tak dikenal itu berasal. Ada dugaan bahwa bahasa berasal dari masyarakat Shrubian, masyarakat yang tinggal di Tushan sebelum Asiria datang.
Hipotesis lain menyebutkan bahwa bahasa itu berasal dari orang-orang Mushki, orang yang bermigrasi dari wilayah yang disebut Anatolia. Hipotesis ini dianggap kurang masuk akal.
Pandangan yang lebih kuat adalah bahasa tersebut berasal dari masyarakat yang diusir keluar oleh Asiria. Pendekatan ini dipakai agar masyarakat itu di wilayah barunya bisa lebih bergantung pada Asiria untuk mendapatkan kesejahteraan.
Lempeng tanah liat yang ditemukan kini disimpan di Diyarbakir, Turki. Hasil riset MacGinnis dipublikasikan di Journal of Near Eastern Studies.

Makam Berusia 4.000 Tahun Ditemukan

Lukisan Rudj-ka dan istrinya.


Para arkeolog telah menemukan makam kuno berasal dari zaman Firaun yang usianya sudah lebih dari 4.000 tahun di dekat Piramid Giza. Pemerintah Mesir mengumumkannya minggu ini.
Indah dalam hiasannya, makam itu ditemukan di dekat makam para pembangun piramida. Makam yang ditemukan itu diketahui merupakan milik Rudj-Ka, pemuka agama yang hidup pada masa Dinasti Kelima Mesir Kuno atau sekitar 2465-2323 SM. Ia diketahui juga merupakan anggota pengadilan Mesir Kuno. Di masanya, imam itu bertugas sebagai pemimpin ritual upacara penghormatan Khafre, penguasa Dinasti Keempat Mesir Kuno yang juga dikenal dengan nama Chephren.
Bagian permukaan dari makam Rudj-ka berhiaskan lukisan kehidupan sehari-hari orang Mesir kuno. Salah satu dinding makamnya melukiskan Rudj-Ka sedang berlayar mencari ikan. Sementara di dinding lainnya menggambarkan sang pemuka agama dan istrinya berdiri di depan meja yang penuh dengan roti, angsa, dan hewan ternak.
Zahi Hawass, Sekretaris Umum Egypt's Supreme Council of Antiquities, mengatakan bahwa penemuan ini mungkin mengindikasikan adanya kompleks pekuburan besar di dekat salah satu piramida terbesar itu. "Makam kuno ini bisa menjadi yang pertama yang ditemukan di area itu. Kami berharap bisa menemukan makam-makam yang diperuntukkan bagi para anggota pengadilan masa itu," tandas Hawass.
Ia juga berspekulasi bahwa makam itu mungkin merupakan kelanjutan dari kompleks pemakaman di Giza. Sebab, kompleks pemakaman di dataran tinggi Giza diketahui sudah terlalu padat.

Patung Firaun Berwajah Feminin Ditemukan

Patung Hatshepsut yang berwajah feminin.



Patung Hatshepsut, penguasa Mesir Kuno yang memerintah pada abad 15 SM, ditemukan Abydos, Mesir. Patung tersebut punya keunikan karena cenderung menunjukkan feminitas.

Hatshepsut sejatinya adalah seorang perempuan, namanya berarti Perempuan bangsawan paling Terkemuka. Karenanya, sekilas, patung yang menunjukkan feminitas tak ada istimewa. Toh, dia memang perempuan.

Akan tetapi, Hatshepsut dipercaya sebagai keturunan Dewa Amon-Re. Ia sering berbusana pria sehingga bisa memenuhi harapan sebagai figur keturunan dewa. Inilah yang menjadikan patung feminin ini istimewa.

Patung Hatshepsut yang ditemukan terbuat dari bahan kayu. Patung disebut menonjolkan sisi feminin sebab memiliki pinggang yang lebih kecil dan bentuk rahang yang lebih halus.

Mary-Ann Pouls Wegner, arkeolog dari Universitas Toronto, Kanada, mengungkapkan patung tersebut digunakan pada masa 1990 - 1650 SM. Patung ditemukan di dekat tempat prosesi.

Bersama patung, ditemukan pula bangunan suci dan 80 mumi hewan.

"Bangunan persembahan menunjukkan bahwa orang-orang, terutama kalangan elit, mampu membangun monumen di dekat tempat prosesi di tengah kerajaan. Dan, paling tidak satu kapel diijinkan tetap berdiri di area padat bangunan ini dan terus mendapatkan persembahan hingga 800 tahun setelah pembangunan," ungkap Wegner seperti dikutip New Scientist, Rabu (13/3/2012). 

Pigmen Tertua Milik Moyang Cumi-cumi

  Fosil kantung tinta dari masa 160 juta tahun lalu.


Pigmen tertua ditemukan di kantong tinta hewan cephalopoda yang hidup 160 juta tahun lalu. Cephalopoda mencakup cumi-cumi, gurita, dan sotong.

Berdasarkan penelitan John Simon dari University of Virginia, struktur molekuler dari tinta tersebut tak jauh berbeda dengan tinta milik sotong masa kini jenis Sepia officinalis.

"Mereka secara esensial tidak bisa dibedakan," ungkap Simon seperti dikutip Livescience pada Senin (21/5/2012).

Hasil penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada Senin kemarin menyatakan bahwa jenis pigmen yang ada pada tinta adalah melanin.

Ada dua macam melanin, yakni eumelanin yang berwarna hitam atau coklat gelap dan pheomelanin yang berwarna oranye-merah.

Analisis kimia yang dilakukan mengungkap bahwa jenis melanin yang ada pada kantong tinta hewan purba ini adalah eumelanin. Ilmuwan juga mengatakan bahwa warna tinta itu adalah hitam.

Berasal dari masa 160 juta tahun yang lalu, Simon mengatakan bahwa pigmen ini adalah yang tertua.

Meski demikian, Simon saat ini tengah berencana meneliti pigmen dari masa yang lebih tua lagi, sekitar 500 juta tahun. Riset ini akan memberikan pandangan tentang warna-warna alami yang ada sejak dahulu.

Sotong modern menggunakan tinta untuk mengganggu predator. Fakta bahwa pigmen masa kini tak jauh berbeda dengan masa lalu adalah mengejutkan sebab cephalopoda telah cukup banyak berubah dalam evolusinya. 

KOMPAS.com Cetak ePaper Kompas TV Bola Entertainment Tekno Otomotif Female Health Properti Kompasiana Urbanesia Images Games KompasKarier PasangIklan Gramedia.com Forum Kompas.com Minggu, 5 Agustus 2012 | 10:18 WIB Home Nasional Regional Internasional Megapolitan Bisnis Olahraga Sains Travel Oase Edukasi Infografis Video More Konservasi Global Warming Umum Astronomi Arkeologi Biologi Lab Serba Serbi Wow!! Fenomena New Jelajahi Kompas.com Bersama Teman-Teman Facebook Anda Learn more Spesies Buaya Terbesar Punya Panjang 8,3 Meter

  Ilustrasi perbandingan ukuran buaya Crocodylus thorbjarnarsoni dengan manusia purba.


Spesies buaya raksasa yang sanggup menelan manusia bulat-bulat pernah hidup di wilayah timur Afrika. Inilah hasil riset peneliti dari University of Iowa.
Ukurannya lebih dari 27 kaki atau sekira 8,3 meter. Sebagai perbandingan, buaya Nil terbesar berukuran kurang dari 21 kaki (6,4 meter).
"Ini adalah buaya terbesar sepanjang masa," kata Christopher Brochu, sang peneliti, seperti dikutip Sciencedaily, Jumat (4/5/2012).
Spesies buaya tersebut diberi nama Crocodylus thorbjarnarsoni. Jenis ini hidup dalam kurun waktu 2-4 juta tahun yang lalu.
Buaya raksasa ini ditemukan dengan analisis fosil yang disimpan di National Museum of Kenya di Nairobi.
"Buaya ini hidup berdampingan dengan leluhur kita, dan mungkin memakan mereka," lanjut Brochu.
Memang tak ada bukti bahwa buaya ini pernah, makan manusia. Namun, ukuran buaya yang besar cukup menguatkan. Buaya bisa makan apa saja dan manusia adalah salah satunya.
"Kami tak punya bukti sisa fosil manusia dengan gigitan buaya, tapi ukuran buaya ini lebih besar dari buaya saat ini, dan kita lebih kecil. Jadi, buaya mungkin tak perlu menggigit," papar Brochu.
Perilaku manusia saat itu juga memberi kemungkinan serangan. Manusia saat itu mencari air di sungai atau danau tempat buaya bersemayam.
Brochu mengungkapkan bahwa Crocodylus thorbjarnarsoni tak memiliki kekerabatan secara langsung dengan buaya Nil yang eksis saat ini.
Menurut Brochu, hal itu menunjukkan bahwa buaya Nil adalah spesies yang relatif "muda", bukan merupakan "fosil hidup" seperti yang diduga.
"Kami benar-benar tak tahu dari mana buaya Nil berasal. Namun, dia baru muncul ketika buaya-buaya purba sudah punah," kata Brochu.
Hasil riset Brochu dipublikasikan di Journal of Vertebrate Paleontology yang terbit pada 3 Mei 2012 lalu.

Klan Cahaya X Klan Hitam "Part 1"

    Vision Pagi itu tidak terlihat adanya hal-hal aneh yang terjadi. Lisa dan sahabatnya menjalani perkuliahan seperti biasanya. ...